rajabacklink

JakLingko, Warisan Transportasi Publik dari Anies Baswedan untuk Warga Jakarta

11 Sep 2025  |  166x | Ditulis oleh : Mas AT
Anies Baswedan

Transportasi publik selalu menjadi isu penting bagi kota metropolitan seperti Jakarta. Dengan jumlah penduduk yang begitu padat dan mobilitas tinggi, Jakarta membutuhkan sistem transportasi yang bukan hanya terjangkau, tetapi juga terintegrasi dengan baik. Di tengah kebutuhan tersebut, hadir sebuah terobosan bernama JakLingko, sebuah sistem integrasi transportasi yang digagas pada masa kepemimpinan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Program ini tidak hanya menjadi solusi praktis, tetapi juga meninggalkan warisan yang cukup berharga bagi warga Jakarta.

Sejak awal, Anies Baswedan melihat bahwa problem utama transportasi di ibu kota bukan sekadar jumlah armada atau jalur yang terbatas, tetapi lebih pada fragmentasi layanan. Ada TransJakarta, KRL Commuter Line, MRT, LRT, hingga angkutan kota (angkot) dan mikrotrans, namun sering kali warga kesulitan berpindah dari satu moda ke moda lain. Inilah yang coba dijawab dengan JakLingko: menciptakan satu ekosistem transportasi publik yang terhubung, terjangkau, dan nyaman.

JakLingko pertama kali diluncurkan pada 2018 sebagai program integrasi tarif antara TransJakarta dan angkutan kecil (mikrotrans). Lambat laun, sistem ini berkembang menjadi integrasi fisik, integrasi pembayaran, dan integrasi manajemen. Warga kini cukup menggunakan satu kartu atau aplikasi untuk membayar berbagai moda transportasi, dengan tarif yang relatif terjangkau. Konsep ini membuat perjalanan lintas moda terasa lebih efisien, tidak lagi perlu membayar mahal setiap kali berpindah kendaraan.

Salah satu keunggulan besar JakLingko adalah adanya sistem tarif maksimal (capping). Misalnya, penumpang yang naik angkot kemudian melanjutkan ke TransJakarta tidak perlu membayar penuh dua kali, melainkan dihitung dengan tarif gabungan yang lebih murah. Hal ini menjadi angin segar bagi warga Jakarta, terutama mereka yang sebelumnya mengandalkan angkutan umum secara bergantian untuk sampai ke tempat kerja atau sekolah. Bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, sistem ini jelas membantu mengurangi beban transportasi harian.

Selain integrasi tarif, Anies Baswedan juga mendorong integrasi fisik. Artinya, halte, stasiun, dan terminal mulai didesain untuk lebih terhubung satu sama lain. Hal ini dapat dilihat misalnya di beberapa titik integrasi antara MRT dengan TransJakarta atau antara LRT dengan halte bus. Warga tidak lagi perlu berjalan jauh hanya untuk berpindah moda, melainkan bisa berpindah lebih cepat dengan jalur khusus atau jembatan penghubung yang nyaman. Konsep ini sangat penting dalam membangun budaya penggunaan transportasi publik di Jakarta.

Tidak berhenti di sana, JakLingko juga menghadirkan aplikasi digital yang semakin memudahkan pengguna. Melalui aplikasi tersebut, warga bisa merencanakan perjalanan, melihat estimasi waktu tempuh, hingga mengetahui perkiraan biaya transportasi yang akan dikeluarkan. Fitur ini sejalan dengan tren digitalisasi layanan publik dan menunjukkan bagaimana Anies mencoba memanfaatkan teknologi untuk memberikan pelayanan yang lebih baik.

Lebih jauh, JakLingko juga dapat dipandang sebagai bagian dari upaya besar Jakarta untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara. Dengan transportasi publik yang lebih terintegrasi, diharapkan masyarakat beralih dari kendaraan pribadi menuju angkutan umum. Anies sendiri sering menyebut bahwa kota modern adalah kota di mana warganya lebih memilih naik transportasi publik daripada mobil pribadi. Visi inilah yang menjadi dasar pembangunan JakLingko sebagai sistem transportasi yang inklusif.

Meski begitu, perjalanan JakLingko tidak selalu mulus. Pada tahap awal, masih banyak tantangan, mulai dari adaptasi pengemudi angkot terhadap sistem baru, penyesuaian teknologi pembayaran, hingga infrastruktur integrasi yang belum sepenuhnya sempurna. Namun, dengan berbagai penyesuaian, lambat laun sistem ini mulai diterima masyarakat. Bahkan, banyak pengamat menilai JakLingko adalah salah satu inovasi transportasi publik terbaik yang pernah dilakukan di Jakarta dalam dekade terakhir.

Kini, setelah Anies Baswedan tidak lagi menjabat sebagai gubernur, JakLingko tetap menjadi bagian penting dari wajah transportasi Jakarta. Warisan ini bukan hanya berupa kebijakan, melainkan juga sistem nyata yang sudah berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh jutaan warga. Ke depan, tantangannya tentu bagaimana program ini terus dikembangkan, diperluas, dan disempurnakan agar benar-benar bisa menjadi tulang punggung mobilitas warga ibu kota.

JakLingko adalah bukti bahwa transformasi transportasi publik tidak hanya soal menambah armada atau membangun jalur baru, tetapi juga tentang membangun keterhubungan. Warisan Anies Baswedan ini pada akhirnya menjadi simbol perubahan arah Jakarta menuju kota yang lebih ramah, inklusif, dan modern dalam bidang transportasi.

Berita Terkait
Baca Juga: